Setelah pulang dari Bogor kemarin, tak kunjung padam semangatku untuk terjun di bidang bisnis. Tapi bagaimana aku bisa memulai suatu perang jika aku tidak mempunyai amunisi yang cukup. Terlintas di pikiranku kata-kata seorang pemateri kemarin bahwa modal tidaklah penting dalam mengawali suatu bisnis. Yang terpenting adalah kemauan kita dan kreatifitas kita tentunya. Yah..aku mulai berpikir lagi. Jika aku tidak mempunyai pistol atau granat, mengapa aku tidak menggunakan kedua tangan ini saja. Mengapa aku tidak menggunakan keisenganku saja untuk menjadi modal?
Saat itu aku mulai mencari desain aplikatif yang mungkin banyak dibutuhkan konsumen. Untuk taraf pemula, lingkungan fakultas dulu mungkin cukup untuk memulainya. Situasi yang mendukungku saat itu adalah kedudukan ku di organisasi mahasiswa. Saat ada acara kemahasiswaan aku tawarkan saja design sertifikat atau pamflet untuk acara tersebut. Yang membuat mereka tertarik adalah harga miring dengan design yang sudah warna-warni. Terang saja mereka tertarik karena penekanan biaya menjadi salah satu hal yang diprioritaskan dalam suatu kepanitiaan. Aku berpikiram positif saja bahwa mereka suka dengan design ku. Narsis juga ya aku ini?
Suatu ketika, temanku dari kepanitiaan menghubungi aku lagi. Dia ingin aku membuatkannya sertifikat untuk acaranya itu. Yah seperti biasa pesannya kepada ku,"Jangan mahal-mahal ya Han!". Aku terima saja tawarannya. Itung-itung sebagai promosi. Sejak saat itu design ku mulai dilirik. Sedikit-sedikit aku memperoleh tambahan uang jajan. Namun lagi-lagi kesibukan ku sebagai calon farmasis mebuatku tak sempat untuk melanjutkan bisnis kecil-kecilan ini. Laporan, laporan, dan laporan. Mungkin bisa menjadi hobi baruku jika aku terlalu lama kuliah. Oleh karena itu aku ingin cepat lulus untuk segera melanjutkan bisnisku ini. Aku kira orang tuaku akan senang. Jadi mereka tidak perlu membiayai aku lagi jika aku ingin melanjutkan kuliah di profesi.
Saturday, December 6, 2008
Chapter 2 : 1% Modal 99% Kemauan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 comments:
Post a Comment